Pages

Sunday, 17 January 2016

Menerjang Teror Bom Sarinah Demi Visa Korea Selatan (Part 2)

Menyambung tulisan sebelumnya...

Masa-masa penantian setelah ngajuin berkas adalah masa-masa penuh debaran antara harap dan cemas (kok jadi mirip kayak nungguin jodoh yak? :p). Soalnya banyak cerita yang visanya ditolak tànpa alasan yang jelas. Kalau ditolak, uang 560rb melayang dan kita baru diperbolehkan ngajuin lagi setelah 3 bulan..aisshh..itu mah sama aja dengan gak jadi berangkat.

Selama masa penantian itu, kami tiap menit tiap detik gak hentinya ngecek status aplikasi kami di website https://www.visa.go.kr/
Dan dua hari kemudian, di suatu sore yang cerah status 'application received' aku dan nona Farah berubah menjadi 'approved'!!!
Horeeee..horeeee..manseeee!!! *loncat-loncat girang sambil nyubitin pipi tembem dedek Kyuhyun*

Eh tapi tapi kok punya Eonni Ratna belum approved ya? Sehari, dua hari, tiga hari masih belum berubah juga. Sampailah di jumat sore yang indah, eonni Ratna ditelpon sama pihak kedutaan kalau dia harus menambahkan berkas lain dan harus datang buat interview!! Ini adalah peristiwa langka dalam dunia pervisaan korsel, jarang banget ada yang diminta buat interview.

Si eonni dimintain tambahan berkas SPT Tahunan (sebelumnya emang ga dilampirin), BPKB mobil, akta tanah, buku tabungan asli, dan tagihan kartu kredit. Jadi kayaknya si kedutaan ini takut banget orang-orang pada nyari kerjaan ilegal di kroya sono jadi kemampuan keuangan kita bener-bener harus meyakinkan (padahal saldo tabungan si eonni juga udah lebih dari cukup menurutku) atau mungkin karena status eonni Ratna sebagai pegawai swasta. Beda dengan PNS, meski saldonya cuma 5 juta pun kayaknya lolos-lolos aja (kayaknya yaaaaa..gak tahu juga sih :p) karena kalau PNS kan mau gak mau pasti bakal balik lagi ke Indo.

Dari Purwokerto, si eonni nyampe ke Jakarta hari Kamis dini hari (14/1/2016). Singgah di kosanku. Lalu kami menyusun rencana besok setelah sholat duhur kami akan berangkat ke kedutaan. Aku berangkat dari kantorku di daerah Senen, dan eonni berangkat dari Slipi. Kita ketemu di sana. Itu rencananyaaaaa...matang dan mantap...

Daaaaaann hari Kamis jam 11.15 terjadilah 'DUARRRRRRR..!!!' Bom meledak di daerah Sarinah. Seketika itu pula Jakarta menjadi guncang penuh kepanikan. Rencana kami pergi ke kedutaan pun jadi berantakan. Temen-temen kantor yang tahu aku ada rencana pergi ngambil visa semuanya ngelarang aku keluar kantor karena kantorku lumayan deket dari lokasi bom. Ditambah lagi ada berita katanya ada bom lain meledak di slipi dan cikini (dan ternyata itu adalah hoax). Makin paniklah kami. Aku minta si eonni ke kedutaannya hari Jumat aja dg harapan suasana lebih kondusif. Eonni Ratna makin bingung, soalnya dia udah beli tiket pulang ñanti malemnya. Nelpon ke kedutaan berkali-kali, gak ada yang angkat. Takutnya kedutaannya tiba-tiba tutup atau gimana. Klop deh, bikin makin bingung.

Lalu tiba-tiba eonni Ratna bilang,"Aku akan tetep ke kedutaan sekarang."
"Hah?? Yakin?? Gimana kalau ada teroris yang kabur dan menembak serampangan di jalan?"
Eonni Ratna tetap dengan keputusannya. Ia pun dengan gagah berani naik ojek menuju kedutaan. Jadi jika kemarin ada hashtag #kamitidaktakut, sesungguhnya eonni Ratna adalah salahsatu yang ngelaksanain duluan.

Perjuangan si eonni tidak sia-sia, Alhamdulillah setelah masukin tambahan berkas, visanya disetujui dan tanpa interview.

Dan inilah penampakan visa yang didapat dengan menerjang risiko teror bom itu. Hanya selembar kertas sticker yang ditempelkan di paspor. Meski ia hanya seperti itu, tapi dengan inilah kita bisa menginjakan kaki di negeri orang.

Semoga perjalanan traveling kami nanti dilancarkan semuanya. Insya Allah kalau terlaksana, nanti akan kushare ceritanya di sini. Bukan untuk sombong-sombongan tapi untuk berbagi pengalaman aja. See yaaaa ^^


Menerjang Teror Bom Sarinah Demi Visa Korea Selatan (Part 1)

Karena aku sering banget terbantu dengan postingan blog orang lain, maka aku akan menuliskan apa yang kutahu dan kualami dengan harapan semoga tulisanku ini juga bisa bermanfaat buat orang lain.

Let's staaartt..!
Judul postingannya bombastis banget yak? Kayak judul-judul berita di koran Lampu Merah..hehehe..
Kisah ini dimulai dengan rencanaku dan temen-temen mengunjungi negeri para Oppa ganteng di Korea sono. Setelah menunggu hampir setahun sejak booking tiket pesawat, akhirnya sampai juga ke hari di mana udah saatnya harus bikin visa. Maaf ya Oppa, engkau terpaksa harus menungguku setahun..maklum uang warisan di bank Swiss belum cair2, jadi cuma mampu beli tiket promo doang..hahaha..(dikeplak Lee Min Ho, lalu lari ke pelukan Song Jong Ki :p )

Lalu kami pun berjibaku mengumpulkan dokumen-dokumen yang jadi syarat pengajuan visa, yaitu :
1. Mengisi formulir aplikasi visa yang bisa didonlot di website kedubes korsel
2. Foto berwarna terbaru ukuran 3,5 x 4,5 cm  (beberapa studio foto udah menyediakan ukuran ini khusus untuk pengajuan visa). Meski gak ada aturan mengenai background foto, mending dibikin background putih aja.
3. Paspor ASLI dan fotokopi paspor (halaman identitas dan halaman cap negara-negara yang pernah dikunjungi)
4. Fotokopi kartu keluarga dan KTP
5. Surat referensi keuangan dari bank. Beberapa bank punya ketentuan sendiri. Kebetulan aku pakai CIMB Niaga, bikinnya bisa di cabang manapun, biayanya 50.000. Temenku pakai Bank Mandiri, bikinnya harus di cabang pembuka rekening, biayanya 150.000. BCA juga katanya harus di cabang pembuka rekening. Ahhhhh enaknya jadi nasabah CIMB Niaga (ini bukan endorse lohhhh :p )
6. Rekening koran 3 bulan terakhir. Kalau aku sih cuma kulampirin print-an mutasi rekening dari internet banking. Lebih hemat soalnya, ga perlu bayar biaya cetak..hehehe..
7. SPT Tahunan ( meski ini cuma pilihan, tapi menurutku sih mending dilampirin aja )
8. Surat keterangan kerja dari kantor dalam bahasa inggris

Setelah semua terkumpul, maka pergilah aku dan temenku (Nona Farah :p) ke kedutaan korsel pagi-pagi buta hari Senin (4/1/2016). Ohya untuk pengajuan visa bukanya cuma jam 09.00 - 11.30. Sedangkan untuk pengambilan visa dari jam 14.00-16.00.
Si kedutaan lokasinya ada di Jalan Gatot Subroto, sebelah RS Medistra. Kami naik busway turun di halte Tegal Parang lalu jalan dikit ke sebelah kanan.

Ada kejadian lucu waktu kami sampai sana. Karena masih pagi, kita putusin beli sarapan dulu aja karena kata Nona Farah pengamanan di kedutaan tuh ketat banget. Kami akan susah untuk keluar masuk. Takutnya ntar antri panjang lalu kami pingsan karena belum sarapan. Nemu tukang bubur ayam, kami beli tanpa pikir lagi. Pas udah beli, bingung mau makan di mana. Kalau makan di pinggir jalan situ, takut ada Oppa unyu lewat, tengsin donkk ahhh. Ya udah kita putusin masuk Medistra aja dengan harapan di situ ada tempat duduk gratis buat kami makan bubur.

Sembari jalan menuju Medistra, kami melewati kantor kedutaan yang gerbangnya dari besi baja super tuebeelll. Ngelihatnya aja serem, dalam pikirku bener juga apa yang dibilang Nona Farah. Kalo gerbangnya aja kayak gitu, pasti dalemnya ketat banget. Lalu kami pun melewati kantor kedutaan korsel satu lagi. Mereka beda gedung, penjagaannya pun biasa banget. Motor mobil dan orang-orang bisa keluar masuk dg santai. Pikirku, lah kok bisa beda banget gitu? Tapi perut yg udah mulai keruyukan membuatku gak ingin ambil pusing.

Sampailah kami ke lobby Medistra, o oww ternyata lobbynya ga kayak RS pada umumnya. Malah lebih mirip lobby hotel. Masa mau numpang makan bubur di situ. Ntar bisa-bisa diusir syantieekk ama satpam..hehe..ehh ada kafe di sebelah kanan, kami pun masuk. Langsung order jus jeruk dan ice choccolate dengan pedenya. Lalu si kasir menyebut rupiah yang harus kami bayar, "Seratus delapan ribu."
Apppppaaaaaa???? Gitu doang seratus ribuuu???? *mata melotot ala sinetron tersanjung*
Alhasil pagi itu kami makan bubur 8ribuan dengan jus 50ribuan..jadi agak seret nelennya..wkwkwkwk..

Daaaann tahuu tidaakk ternyata tempat bikin visanya bukan yang gerbang besi tebel itu, tapi gedung sebelahnya yang bisa keluar masuk sesukanya. Dan di sana ada tempat duduk gratis tanpa harus beli minuman seratus ribu cuma buat numpang makan bubur *tepok jidad*

Lalu apa hubungannya dengan Bom Sarinah? Kuceritain aja di part 2 yah..capek eum ngetiknya..hehehe..

To be continued..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...